Pakaian yang tidak lagi digunakan bukan berarti kehilangan seluruh manfaatnya. Dengan sedikit kreativitas, pakaian bekas masih bisa diolah menjadi barang baru yang memiliki fungsi. Gagasan inilah yang diangkat REKA Project melalui kegiatan edukasi dan workshop pemanfaatan pakaian bekas di Nutrihub Medan, Jumat (9/10/2026). Kegiatan ini menjadi lanjutan rangkaian kampanye REKA Project setelah sebelumnya menggelar pre event di kawasan Car Free Day (CFD) pada Minggu (4/10/2026).
REKA Project merupakan kampanye yang mengangkat persoalan fast fashion dan limbah tekstil melalui edukasi serta praktik pemanfaatan kembali pakaian bekas. Jika pre event di CFD menjadi kesempatan untuk memperkenalkan isu tersebut kepada masyarakat, kegiatan utama ini berfokus pada edukasi dan praktik langsung mengolah pakaian bekas menjadi barang yang memiliki fungsi baru.

Project Manager REKA Project, Dwi Garini Oktavianti, menjelaskan bahwa isu tersebut dipilih karena dekat dengan kehidupan sehari-hari Generasi Z yang tidak terlepas dari perkembangan tren berpakaian.
“Tim REKA sendiri melihat isu mengenai pencemaran lingkungan akibat limbah tekstil dan dampak buruk industri fast fashion cukup mengkhawatirkan, terutama di era sekarang. Isu ini cukup relate dengan lifestyle Gen Z, jadi menarik untuk dikampanyekan,” ujarnya.
Salah satu kegiatan utama REKA Project diwujudkan melalui workshop menjahit dengan memanfaatkan pakaian bekas. Peserta diajak untuk melihat bahwa pakaian yang sudah tidak digunakan masih memiliki potensi untuk diolah kembali. Melalui praktik langsung, peserta dapat mempelajari cara memberikan fungsi baru pada pakaian yang sebelumnya hanya tersimpan atau tidak lagi digunakan.
Dalam pelaksanaan main event, REKA Project juga berkolaborasi dengan Rumah Kreatif Rani, salah satu pegiat lingkungan asal Binjai yang telah menjalin kolaborasi dengan berbagai komunitas. Pada kegiatan ini, Rumah Kreatif Rani berperan sebagai kolaborator sekaligus mentor yang mendampingi peserta selama sesi praktik menjahit dan mengolah pakaian bekas. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan pemanfaatan kembali pakaian melalui kegiatan kreatif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Perwakilan Rumah Kreatif Rani, Khairani Lubis menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini dapat menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.
“Acara ini sangat bermanfaat. Kita membantu menyelamatkan bumi dengan hal kecil. Melalui acara ini, semoga bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, apalagi di tengah isu fast fashion sekarang,” ungkapnya.
Bagi peserta, kegiatan ini juga memberikan pengalaman baru dalam melihat pakaian bekas. Mutiara Chairunnisa, salah satu peserta workshop, mengaku tertarik mengikuti kegiatan REKA Project karena ingin mencoba aktivitas menjahit dengan menggunakan pakaian bekas sebagai bahan utama.
“Aku tertarik ikut kegiatan REKA karena workshop-nya menjahit, terus yang dijahit juga pakaian bekas, jadi ada value-nya,” tuturnya.
Pengalaman tersebut turut mendorong Mutiara untuk mencoba mengolah pakaian bekas yang dimilikinya di rumah. Ia mengaku memiliki cukup banyak pakaian yang sudah tidak digunakan dan berencana memanfaatkannya kembali setelah mengikuti kegiatan ini.
“Aku punya banyak pakaian bekas di rumah. Setelah acara ini, kayaknya aku bakal nyoba untuk recreate atau mengolah pakaian bekas jadi barang-barang baru, kayak yang kita lakuin sekarang,” tambahnya.
Mengolah pakaian bekas menjadi barang baru merupakan salah satu cara untuk memperpanjang masa guna pakaian. Melalui rangkaian kegiatan ini, REKA Project berharap masyarakat tidak hanya mengenal persoalan fast fashion dan limbah tekstil, tetapi juga mulai menerapkan kebiasaan memanfaatkan pakaian yang sudah tidak terpakai.












