
Pemuda asal Rantau Parapat ini bernama Salman Al Farici. Meski kini ia telah resmi lulus dari Program Studi Antropologi Sosial Universitas Sumatera Utara (USU) pada Agustus 2026 lalu, Salman meninggalkan banyak jejak akademik dan inspiratif selama masa studinya.
Sebagai mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kerelawanan, Salman tetap meraih pencapaian akademik. Salah satunya dengan menyabet Juara 3 dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Program Sarjana tahun 2025 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU. Sejak bergabung sebagai Youth Advocate di United Nation Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women) Indonesia, ia diharuskan untuk merealisasikan suatu gerakan sosial yang berdampak pada masyarakat. Proyek secara tim tersebut berujung dinamai dengan Boneka Suara Kita, yang kerap disebut dengan Boneka Kita.
Melalui Instagram @boneka_kita, Salman dan tim menyatakan dengan jelas bahwa proyek ini lahir sebagai inisiatif edukasi sosial berbasis budaya lokal, guna merespons masifnya kasus kekerasan seksual terhadap anak serta minimnya literasi pendidikan seksual itu sendiri. Selain oleh UN Women, proyek ini mendapat dukungan dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Republik Indonesia (Kemendukbangga RI) serta United Nations Population Fund (UNFPA). Besarnya dukungan ini membuat Salman menyadari bahwa untuk merealisasikannya pun, ia dan tim masih membutuhkan modal finansial serta branding yang kuat.
Motivasi untuk merealisasikan proyek ini berujung pada keikutsertaannya pada ajang Pilmapres FISIP USU tahun 2025. Tanpa ragu, ia memboyong proyek ini sebagai presentasi utamanya, lantas disetujui secara konsep dan finansial.
“Proyek Boneka Kita aku bawa ke depan juri. Mereka setuju, dosen setuju, ketua program studi setuju, [dan dipersilakan untuk] dijalankan, presentasi dan menang sebagai Juara 3. Uang sebagai mahasiswa berprestasi dan dukungan dari UN Women itulah yang menyokong implementasi proyek di MAN 2 Deli Serdang,” ungkapnya.
Saat itu, Salman menilai bahwa tim masih memerlukan branding yang kuat untuk merealisasikan proyek ke instansi pendidikan. Oleh karenanya, gelarnya sebagai mahasiswa berprestasi memperkuat modal branding yang diperlukan, sehingga proyek dapat didukung oleh pihak sekolah dan para siswa-siswi sebagai sasaran audiens.
Sebagai Mahasiswa Berprestasi FISIP USU tahun 2025, Salman menunjukkan bahwa gelar tersebut tidak berakhir sebatas titel dan penghargaan tanpa dampak nyata. Motivasinya mengikuti ajang tersebut demi merealisasikan proyek secara nyata menjadi bukti bahwa Salman tidak hanya memandang ruang akademik untuk sekadar “belajar teori”, tetapi juga wadah untuk berdampak pada masyarakat.












