Warta Nusantara | JAKARTA UTARA — Ketua Pondok Pesantren Terpadu Khairul Ummah Syahroni, Dr. H. Khairul Umam, S.Th.I., M.Ag., menekankan pentingnya peran santri dalam menjaga persatuan dan menghadapi tantangan globalisasi. Pesan tersebut disampaikan dalam diskusi publik memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 bertema “Santri Bersumpah, Pemuda Berdakwah, Indonesia Berkah” di Kapuk Muara, Jakarta Utara, Rabu (28/10/2026).
Diskusi tersebut diikuti ratusan santri dan dipandu bersama Radian Azhar, S.E., M.M., anggota Dewan Kota Jakarta Utara. Kegiatan berlangsung di tengah dinamika aksi massa pada peringatan Sumpah Pemuda, yang menjadi salah satu konteks penting untuk kembali membicarakan persatuan dan cara menyikapi perbedaan di ruang publik.
Khairul Umam menyoroti globalisasi yang mempertemukan masyarakat dengan beragam budaya, pandangan, dan perkembangan informasi. Dalam situasi tersebut, santri perlu memiliki pemahaman agama yang kuat sekaligus kemampuan berinteraksi secara bijaksana dengan lingkungan yang majemuk.
Prinsip Bhinneka Tunggal Ika menjadi landasan penting dalam merawat keberagaman Indonesia. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk membangun permusuhan. Sebaliknya, perbedaan perlu dikelola melalui dialog, penghormatan terhadap sesama, dan kesadaran bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga keutuhan bangsa.
Ia menegaskan pentingnya membawa nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, yakni rahmat bagi seluruh alam. Bagi santri, nilai tersebut perlu tercermin dalam perilaku santun, sikap adil, kepedulian terhadap sesama, serta penolakan terhadap tindakan yang merugikan orang lain.
Dalam kehidupan sosial, santri diharapkan hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan intoleransi dan kekerasan. Kepedulian terhadap kondisi bangsa tidak harus diwujudkan melalui pertentangan, tetapi juga melalui pendidikan, dakwah, pendampingan masyarakat, dan dialog yang membuka ruang bagi penyelesaian masalah.
Khairul Umam juga menekankan pentingnya mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan memperkuat pemahaman agama secara menyeluruh, meningkatkan literasi digital, serta membangun komunikasi yang terbuka antara pesantren dan masyarakat.
Di tengah dinamika aksi massa, pesan mengenai persatuan dan kedamaian menjadi relevan untuk terus disampaikan. Perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat, tetapi perlu disikapi secara dewasa agar tidak berkembang menjadi permusuhan. Penyampaian aspirasi dan upaya menjaga ketertiban dapat berjalan beriringan apabila setiap pihak menghormati hak dan keselamatan sesama.
Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 menjadi momentum bagi kalangan pesantren untuk memperkuat kontribusi dalam kehidupan kebangsaan. Melalui pendidikan dan keteladanan, santri diharapkan mampu menjaga nilai keislaman sekaligus berperan dalam merawat persaudaraan di tengah masyarakat yang beragam.
Dengan semangat “Santri Bersumpah, Pemuda Berdakwah, Indonesia Berkah”, Khairul Ummah mengajak generasi muda untuk menjadikan persatuan sebagai pijakan dalam menghadapi tantangan zaman. Menolak intoleransi dan kekerasan serta menjaga ruang publik tetap damai merupakan bagian dari tanggung jawab bersama terhadap masa depan Indonesia.












